JAKARTA: Asosiasi Satelit Indonesia (Assi) berharap pemerintah dapat mengoordinasikan satelit nasional. Anggota Assi juga diimbau untuk menggunakan produk dalam negeri, misalnya untuk antena direct-to-home (DTH).�� Ketua Assi Tonda Priyanto menuturkan harapan itu belum lama ini. "Beberapa departemen diminta membuat roadmap satelit, kami dari asosiasi siap membantu. Namun, kami berharap pemerintah dapat berkoordinasi mengenai satelit nasional," ujarnya belum lama ini.Dia menuturkan koordinasi itu dibutuhkan untuk melakukan konsolidasi secara lengkap bila ada kebutuhan satelit untuk kepentingan yang lebih luas mengingat semua transponder di Indonesia sudah terpakai dan banyak pemilik yang menyewa dari asing. "Band sulit, slot terbatas namun kebutuhan satelit di RI meningkat." Kehadiran satelit asing dinilai masih diperlukan untuk memberikan akses kepada pengguna di Indonesia mengingat pasokan dari penyedia satelit lokal belum mencukupi. Dengan konsolidasi maka arah kebutuhan satelit menjadi jelas termasuk kebijakan pengaturan slot yang tidak sekadar infrastruktur tetapi juga penyiaran (broadcast). Dia mengatakan kebutuhan satelit mencakup dua aspek yaitu satelit untuk kebutuhan sendiri untuk pemantauan atau pada tataran khusus dengan menggunakan Satelit LEO dengan pencitraan yang berbeda-beda dan atau kebutuhan untuk distribusi informasi (diseminasi) menggunakan satelit komunikasi. Tonda mengingatkan kebutuhan untuk departemen perlu diperjelas peruntukannya misalnya untuk kebutuhan komunikasi atau untuk satelit pencitraan atau LEO. "Ini kan tidak bisa sendiri-sendiri jadi harus satu paket."Kebutuhan transponder di Indonesia telah mencapai 150 unit, tetapi yang tersedia dari satelit domestik cuma 97 unit transponder. Kapasitas satu transponder mencapai 50 Mbps sehingga bila dihitung kekurangan transponder sebanyak 53 unit, sedikitnya perlu 2,65 Gbps lagi bandwidth yang didatangkan dari satelit asing. Orbit rendah & GPSSatelit LEO atau Low Earth Orbiting Satellite diorbitkan pada ketinggian rendah atau sekitar 400 mil berbeda dengan satelit Palapa yang termasuk kategori satelit GEO yang bertengger pada ketinggian 22.300 mil di atas bumi.Di samping itu, komponen satelit juga mempertimbangkan sarana yang ada seperti frekuensi, peering, dan slot yang merupakan sumber daya terbatas. Assi telah meminta anggotanya untuk menggunakan produk dalam negeri misalnya untuk antena direct-to-home (DTH) misalnya untuk layanan seperti Astro, Telkomvision dan Indovision. "Kami akan lihat prospeknya seperti apa untuk produk dalam negeri."DPR beberapa waktu lalu mengharapkan asosiasi satelit memberdayakan produk dalam negeri termasuk untuk kebutuhan layanan global positioning system (GPS) agar tidak semuanya digarap oleh asing.Assi menyatakan untuk layanan GPS saat ini menggunakan satelit biasa yang baru dapat diproduksi AS dan Rusia. Di Eropa sudah proses tetapi tidak berjalan lancar sementara China belum mengembangkannya, sementara Indonesia baru menggunakan satelit untuk komunikasi.Pengguna satelit baik dari kalangan operator seluler maupun korporasi banyak yang mendatangkan bandwidth melalui satelit asing. Tonda mengungkapkan sebagian bandwidth dari satelit asing tersebut legal, sementara yang illegal jumlahnya makin berkurang dan saat ini tinggal sekitar 10%. Bandwidth merupakan istilah umum yang dipakai untuk menyatakan sinyal satelit atau Internet yang membawa data berkapasitas besar. Bisnis satelit berpeluang tumbuh hingga 10% dibandingkan dengan tahun ini yang dipicu maraknya ekspansi yang dilakukan operator seluler ke wilayah di luar Jawa. (
' );
//-->\n
roni.yunianto@bisnis.co.id
' );
//-->
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
' );
//-->
)Oleh Roni YuniantoBisnis Indonesia
Astronom Temukan Tata Surya Baru dengan Dua Planet
Written by Nur Fiatin
Wednesday, 27 February 2008
sumber :http://www.kompas.com/
Jumat, 15 Februari 2008 16:33 WIB
WASHINGTON, JUMAT - Sebuah bintang seukuran Matahari yang terletak triliunan kilometer dari Bumi dikelilingi dua buah planet. Temuan ini semakin menguatkan anggapan bahwa sistem planet-planet yang mirip tata surya kita banyak tersebar di alam semesta.Para astronom yang dipimpin Scott Gaudi dari Universtas Ohio State, AS dapat mengamatinya dengan teknik yang disebut lensa mikro gravitasi. Bintang dan dua planet yang mengelilinginya itu teramati saat bergerak di depan bintang yang lebih jauh pada tahun 2006.
Kedua planet ditemukan pada bintang OGLE-2006-BLG-109L yang berada 5.000 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,6 triliun kilometer). Gaudi dan timnya menemukan distorsi cahaya bintang yang diperkirakan sebagai sebuah planet yang bergerak mengelilinginya. Distorsi yang lebih kuat teramati sehari kemudian. Perlu dua bulan untuk memastikan bahwa kedua distorsi memang disebabkan planet. Kedua planet mungkin jenis planet gas seperti Jupiter atau Saturnus. Meskipun demikian, besarnya hanya sekitar 80 persennya."Ini pertama kalinya kami mengamati peristiwa penguatan cukup besar dengan sensitifitas sangat tinggi sehingga sangat jelas menunjukkan planet kedua - dan yang satunya tentunya," ujar Gaudi, yang melaporkan temuan tersebut dalam jurnal Science terbaru.Penemuan sebuah bintang yang dikelilingi beberapa planet seperti ini termasuk langka. Sebelumnya para astronom dari Universitas Ohio State juga menemukan sistem planet-planet dengan sebuah bintang yang mengelilingi empat planet melalui program Microlensing Follow Up Network (MicroFUN) yang melibatkan lembaga riset dari 11 negara.(AP/WAH)
Jumat, 02 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar